Perbedaan dan Persamaan Antara AQ,CQ,SQ,EQ dengan Grit.

Perbedaan dan Persamaan Antara AQ,CQ,SQ,EQ dengan Grit.

AQ (Adversity Quotient)

Menurut Agustian (2001 : 373), “Adversity Quotient adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan bertahan hidup”. Secara sederhana Adversity Quotient dapat didefinisikan sebagai kecerdasan individu dalam menghadapi kesulitan dan bertahan dari kesulitan tersebut. Jika seseorang berhadapan dengan berbagai kesulitan hidup, maka kecerdasan yang digunakan adalah Adversity Quotient. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa, adversity quotient (AQ) merupakan kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah yang dianggapnya sulit namun ia akan tetap bertahan dan berusaha untuk menyelesaikan dengan sebaik-sebaiknya supaya menjadi individu yang memiliki kualitas baik.

Stoltz (2004) mengemukakan bahwa adversity merupakan kesulitan yang dihadapi oleh seseorang sehingga tidak sedikit orang patah semangat menghadapi tantangan tersebut. Sedangkan AQ merupakan suatu kegigihan seseorang dalam menghadapi segala rintangan dalam mencapai keberhasilan. Selain itu Stolz (2004) juga mengemukakan bahwa AQ memiliki empat dimensi pokok yang menjadi dasar penyusunan alat ukur AQ, yaitu:

  1. Pengendalian (Control) : respon seseorang terhadap kesulitan, baik lambat maupun spontanitas
  2. Kepemilikan (Origin and Ownership) : sejauh mana seseorang merasa dapat memperbaiki situasi
  3. Jangkauan (Reach) : sejauh mana kesulitan yang dihadapi dalam mempengaruhi kehidupannya
  4. Daya tahan (Endurance) : mencerminkan bagaimana seseorang mempersepsikan kesulitannya dan dapat bertahan melalui kesulitan tersebut.

CQ (Cultural Quotient)

Cultural Quotient menurut Ang, dkk (2015) adalah kemampuan umum yang memfasilitasi efektivitas seseorang di budaya yang berbeda dan dalam lingkungan multikultural. Early dan Ang (2003) mengidentifikasi empat faktor CQ yaitu:cognitif CQ : CQ kognitif mengacu pada pengetahuan individu tentang lingkungan budaya, termasuk norma, praktik dan konvensi (Ang & Van Dyne, 2008). Hal ini meliputi pengetahuan seseorang tentang persamaan dan perbedaan antar lintas budaya (Livermore, 2011; Ng Van Dyne, Ang & Ryan, 2012).

  1. Cognitif CQ : CQ kognitif mengacu pada pengetahuan individu tentang lingkungan budaya, termasuk norma, praktik dan konvensi (Ang & Van Dyne, 2008). Hal ini meliputi pengetahuan seseorang tentang persamaan dan perbedaan antar lintas budaya (Livermore, 2011; Ng Van Dyne, Ang & Ryan, 2012).
  2. Metacognitif CQ : Metakognitif CQ merupakan aspek CQ yang menghubungkan level kesadaran individu terhadap penerimaan cultural sebelum melakukan interaksi lintas budaya. Berkaitan dengan perencanaan, pemantauan dan revisi model mentalnorma budaya yang dianggap tepat untuk negara tertentu atau kelompok tertentu (Ang & Van Dyne, 2008).
  3. Motivasi CQ : Motivasi CQ berkaitan dengan minat dan kepercayaan individu saat berinteraksi dalam situasi budaya yang beragam (Livermore, 2011). Kemampuan ini mengarahkan perhatian dan energi untuk belajar dan berfungsi secara efektif terlepas dari tantangan yang dihadapi dalam lintas budaya (Ang & Van Dyne, 2008).
  4. Behavioral CQ : CQ perilaku mencerminkan kemampuan individu untuk menunjukkan perilaku verbal dan non-verbal yang tepat pada situasi lintas budaya.

SQ (Spiritual Quotient)

Kecerdasan spiritual (SQ) adalah (Bowell, 2004:17-18) kecerdasan yang berfokus pada pertanyaan “WHY”,  Hal ini membangun kesadaran pada diri dan bukan pada ide, pandangan atau pendapat atau pengalaman. Ujungnya akan tercipta rasa terpesona dan antusias, bahagia dalam menjalani hidup. Nggermanto (2002:123) mengatakan bahwa seseorang yang memiliki SQ tinggi adalah orang yang memiliki prinsip dan visi yang kuat, mampu memaknai setiap sisi kehidupan serta mampu mengelola dan bertahan dalam kesulitan dan kesakitan.

Ciri - Ciri SQ

Robert A. Emmons sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat, dijelaskan terdapat lima ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan spiritual antara lain

  1. Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material.
  2. Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak
  3. Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari
  4. Kemampuan menggunakan sumber-sumber spiritual untuk menyelesaikan masalah
  5. Kemampuan untuk berbuat baik, yaitu memiliki rasa kasih sayang kepada sesama makhluk Tuhan seperti memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terima kasih

EQ (Emotional Quotient)

Menurut Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu.

Dimensi dari kecerdasan emosional menurut Yeung (2009:3-4) ada tiga hal yaitu :

  1. Kesadaran diri sendiri  : Kesadaran diri sendiri berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi suasana hati dan perasaan diri sendiri dan mempengaruhi orang lain.
  2. Arah diri sendiri
  3. Kecerdasan interpersonal. Kesadaran diri sendiri berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi suasana hati dan perasaan diri sendiri dan mempengaruhi orang lain.

Grit

Ketekunan dan konsisten terhadap minat dari seorang individu, diistilahkan oleh Duckworth (2007) sebagai Grit. Grit termasuk ke dalam kelompok trait personality yang menurut Angela Lee Duckworth (2007) merupakan kecenderungan individu untuk mempertahankan ketekunan dan semangat untuk tujuan jangka panjang yang menantang, dimana setiap individu bertahan dengan hal-hal yang menjadi tujuan mereka dalam jangka waktu yang panjang sampai mereka mencapai tujuan tersebut.

Grit didefinisikan sebagai kegigihan dan semangat untuk mencapai tujuan jangka panjang (Duckworth, 2007). Grit ditujukan dengan bekerja keras menghadapi tantangan, mempertahankan usaha dan minat meskipun dihadapkan pada kegagalam, tantangan dan kesulitan pada prosesnya. Individu yang Gritty memandang sebuah pencapaian atau prestasi sebagai sebuah marathon. Saat inidividu lain merasa kecewa dan bosan pada sesuatu sehingga mendorong mereka untuk merubah haluan dengan berganti tujuan atau bahkan mundur dan berhenti berusaha sama sekali, individu dengan Grit yang tinggi akan tetap berusaha pada hal ataupun tujuan yang telah dipilihnya. Grit terdiri dari dua aspek, yaitu konsistensi minat (Passion) dan ketekunan usaha (Perseverance).

Menurut Duckworth (2007) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Grit pada seorang individu. Faktor ini dikelompokan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. 

  1. Faktor internal ini terdiri dari Interest, Practice, Purpose, dan Hope
  2. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi Grit adalah Parenting, The Playing Field, of Grit dan Culture of Grit. 

Contoh Kasus :

Gambaran Derajat Grit Pada Mahasiswa Akademi Keperawatan “X” di Kabupaten Kepulauan Aru

Roseilla Nora Izaach (2017)

Kasus

Menjadi tenaga medis saat ini memiliki tantangan dan persaingan yang cukup ketat. Setelah lulus dari Akademi Keperawatan seorang mahasiswa tidak serta merta akan menjadi perawat di Rumah Sakit atau di lembaga pelayanan kesehatan lainnya, tetapi diharuskan untuk melanjutkan studi profesi Ners untuk dapat bekerja sebagai perawat profesional sesuai dengan Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2014 (Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, 2014). Perjalanan panjang untuk menjadi seorang perawat professional tentunya membutuhkan upaya yang sungguh dari setiap mahasiswa. Individu dengan derajat grit yang tinggi dapat berhasil dalam mencapai tujuan-tujuan hidupnya sehingga mampu untuk meraih sukses. Kesuksesan ditandai dengan berhasilnya seorang individu mencapai impian yang dicita-citakan, salah satunya dalam dunia pendidikan menjadi acuan penentu kesuksesan seorang individu untuk memersiapkan masa depannya. Berdasarkan pada paparan mengenai pentingnya grit dalam mendukung seorang individu dalam meraih impian masa depannya guna meraih kesuksesan, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih mendalam tentang gambaran derajat grit pada mahasiswa Akademi Keperawatan X yang berlokasi di daerah terpencil.

Analisis Kasus :

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Responden dengan derajat grit yang rendah menunjukan bahwa upaya yang dilakukan oleh individu untuk mencapai tujuan-tujuan penting dalam hidupnya bukanlah hal yang utama. Berdasarkan pada tabulasi silang antara grit dengan pekerjaan orang tua sebagai gambaran status sosial ekonomi mahasiswa diperoleh bahwa secara umum dari ke-enam jenis pekerjaan orang tua yang diperoleh dalam penelitian ini bahwa latar belakang status ekonomi orang tua yang bervariasi bukanlah sebagai penentu utama tingginya derajat grit. Kondisi demografik dan lingkungan sosial masyarakat yang berbeda dapat menjadi acuan bahwa derajat grit seorang individu pada satu daerah dengan daerah yang lain dapat bervariasi.

 


Referensi :

Akimas, H. N., Bachri, A. A. (2016). Pengaruh Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), Kecerdasan Spiritual (SQ), terhadap Kinerja Pegawai Inspektorat Provinsi Kalimantan Selatan. Jurnal Wawasan Manajemen, Vol. 4, Nomor 3, Oktober 2016

Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews, M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit: Perseverance and passion for long-term goals. Journal of Personality and Social Psychology, 92(6), 1087-1101.

Hidayat, W. (2017). Adversity Quotient dan Penalaran Kreatif Matematis Siswa SMA dalam Pembelajaran Argument Driven Inquiry pada Materi Turunan Fungsi. Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 2, No. 1, April 2017

Izaach, R. N. (2017). Gambaran Derajat Grit Pada Mahasiswa Akademi Keperawatan “X” di Kabupaten Kepulauan Aru. Humanitas, Volume 1 Nomor 1 April 2017

Nurhayati., Fajrianti, N. (2015). Pengaruh Adversity Quotient (AQ) dan Motivasi Berprestasi Terhadap Prestasi Belajar Matematika. Jurnal Formatif 3(1) : 72 – 77

Solehudin, M. (2018). Peran Guru PAI dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) Siswa SMK Komputama Majenang. Jurnal Tawadhu Vol. 1 No. 3, 2018

Utami, S. W. (2018). Cultural Quotient (CQ) dalam Interaksi Lintas Budaya: Peranannya sebagai Alat Ukur serta Pengaruhnya dengan Kecerdasan Interpersonal pada Mahasiswa Fakultas Psikologi. Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang, Indonesia


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Engagement dan Self Determination

Resume Kuliah Dosen Tamu

Spiritual Quotient (SQ), Emotional Quotient (EQ), Creativity Quotient (CQ), Adversity Quotient (AQ)