Spiritual Quotient (SQ), Emotional Quotient (EQ), Creativity Quotient (CQ), Adversity Quotient (AQ)
Spiritual Quotient (SQ), Emotional Quotient (EQ), Creativity Quotient (CQ), Adversity Quotient (AQ)
Spiritual Quotient (SQ)
Otak merupakan organ tubuh yang paling kompleks. Otak memproduksi pikiran sadar yang menajubkan akan diri dan lingkungan, serta kemampuan menghasilkan dan menstruktur pemikiran kita, memungkinkan kita memiliki perasaan dan menjembatani kehidupan spiritual. Kesadaran akan makna, nilai, dan konteks yang sesuai untuk memahami pengalaman.
Kecerdasan spiritual (SQ) menurut Bowell (2004) adalah kecerdasan yang berfokus pada pertanyaan " WHY", hal ini membangun kesadaran pada diri dan bukan pada ide, pandangan, pendapat, atau pengalaman. Ujungnya akan tercipta rasa terpesona dan antusias, bahagia dalam menjalani hidup. Nggermanto (2002 : 123) mengatakan bahwa seseorang yang memiliki SQ tinggi adalah orang yang memiliki prinsip dan visi yang kuat, mampu memaknai setiap sisi kehidupan serta mampu mengelola dan bertahan dalam kesulitan dan kesakitan. Ginanjar (2005 : 47) menyebutkan kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku, dan kegiatan serta mampu menyinergikan IQ, EQ, dan SQ secara komprehensif.
Kecerdasan spiritual (SQ) menurut Bowell (2004) adalah kecerdasan yang berfokus pada pertanyaan " WHY", hal ini membangun kesadaran pada diri dan bukan pada ide, pandangan, pendapat, atau pengalaman. Ujungnya akan tercipta rasa terpesona dan antusias, bahagia dalam menjalani hidup. Nggermanto (2002 : 123) mengatakan bahwa seseorang yang memiliki SQ tinggi adalah orang yang memiliki prinsip dan visi yang kuat, mampu memaknai setiap sisi kehidupan serta mampu mengelola dan bertahan dalam kesulitan dan kesakitan. Ginanjar (2005 : 47) menyebutkan kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku, dan kegiatan serta mampu menyinergikan IQ, EQ, dan SQ secara komprehensif.
Ciri - Ciri SQ :
Robert A. Emmons sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat, dijelaskan terdapat lima ciri - ciri orang yang memiliki kecerdasan spiritual, antara lain :
- Kemampuan untuk mentransedensikan yang fisik dan material
- Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak
- Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari - hari
- Kemampuan menggunakan sumber - sumber spiritual untuk menyelesaikan masalah
- Kemampuan untuk berbuat bai, yaitu memiliki rasa kasih sayang kepada sesama makhluk Tuhan seperti memberi maaf, bersyukur, atau mengungkapkan terima kasih
Manfaat SQ
Kecerdasan bukan hanya cerdas secara intelektual (IQ). Tetapi untuk menjadi orang yang bisa mengatasi tantangan dan ide agar tidak terbawa arus zaman, maka seseorang bukan hanya memerlukan kecerdasan intelektual (IQ) saja, namun juga harus memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi. Berikut ini adalah manfaat kecerdasan spiritual bagi manusia :
- Mendidik hati menjadi benar
- Membuat manusia memiliki hubungan yang kuat dengan Sang Pencipta
- Melahirkan keputusan yang terbaik
- Menjadi landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.
Emotional Quotient (EQ)
Menurut Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis, psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu.
Dimensi dari kecerdasan emosional menurut Yeung (2009 : 3 - 4) ada tiga hal, yaitu kesadaran diri sendiri, arah diri sendiri, dan kecerdasan interpersonal. Kesadaran diri sendiri berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi suasana hati, perasaan diri sendiri, dan mempengaruhi orang lain. Kecerdasan emosional menurut Goleman (2005 : 18) adalah seberapa baik kinerja seseorang yang sudah bekerja atau seberapa tinggi kesuksesan yang dicapai dalam hidup.
Dimensi dari kecerdasan emosional menurut Yeung (2009 : 3 - 4) ada tiga hal, yaitu kesadaran diri sendiri, arah diri sendiri, dan kecerdasan interpersonal. Kesadaran diri sendiri berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi suasana hati, perasaan diri sendiri, dan mempengaruhi orang lain. Kecerdasan emosional menurut Goleman (2005 : 18) adalah seberapa baik kinerja seseorang yang sudah bekerja atau seberapa tinggi kesuksesan yang dicapai dalam hidup.
Ciri - Ciri EQ
Goleman dalam bukunya Esthi Endah Ayuning Tyas menyebutka ciri - ciri kecerdasan emosional dapat diketahui dengan tingkat kemampuan seseorang pada lima aspek kondisi mental manusia, antara lain :
- Kesadaran diri
- Kemampuan pengaturan diri
- Motivasi
- Empati atau kecakapan sosial
- Kemampuan keterampilan sosial atau kemampuan interpersonal
Manfaat EQ
Kecerdasan emosional sangat bermanfaat bagi semua golongan umur di semua strata kehidupan, diantaranya dapat membuat orang tidak depresi, tidak cepat putus asa, tidak membuat impulsif dan agresif, tidak cepat puas, tidak egois, selalu terbuka pada kritikan, terampil dalam melakukan hubungan sosial, tidak mudah marah dan lain sebagainya, dan ini semua tentu akan berdampak positif untuk menghilangkan sosial problem sebagai dampak negatif globalisasi yang saat ini banyak terjadi di masyarakat.
Creativity Quotient (CQ)
Barron (Hosnan, 2016 : 245) menyatalan kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau kombinasi dari unsur - unsur yang telah ada sebelumnya. Selanjutnya Munandar (Isvina, dkk, 2015 : 2) membagi kreativitas kedalam beberapa aspek, yaitu aspek kelancaran, aspek fleksibilitas, aspek orisinalitas, dan aspek elaborasi. Keempat aspek tersebut memiliki keterikatan satu sama lain. Jika salah satu aspek mengalami ketergangguan dari luar maupun dalam, maka mengakibatkan aspek lain terpengaruhi.
Guil Ford mendeskripsikan 5 ciri kreativitas :
- Kelancaran : Kemampuan memproduksi ide
- Keluwesan : Kemampuan untuk mengajukan bermacam - macam pendekatan jalan pemecahan masalah
- Keaslian : Kemampuan untuk melahirkan gagasan yang orisinil sebagai hasil pemikiran sendiri
- Penguraian : Kemampuan menguraikan sesuatu secara terperinci
- Perumusan kembali : Kemampuan untuk mengkaji kembali suatu persoalan melalui cara yang berbeda dengan yang sudah lazim.
Kreativitas terdiri dari dua unsur :
- Kefasihan : Kemampuan menghasilkan sebuah gagasan dan ide pemecahan masalah dengan lancar
- Keluwesan : Kemampuan untuk menemukan gagasan yang berbeda dan luar biasa untuk memecahkan suatu masalah
Adversity Quotient (AQ)
Menurut Agustian (2001 : 373) adversity quotient adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan bertahan hidup. Secara sederhana adversity quotient dapat di definiskan sebagai kecerdasan individu dalam menghadapi kesulitan dan bertahan dari kesulitan tersebut. Jika seseorang berhadapan dengan berbagai kesulitan hidup, maka kecerdasan yang digunakan adalah adversity quotient. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa adversity quotient merupakan kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah yang dianggapnya sulit namun ia akan tetap bertahan dan berusaha untuk menyelesaikan dengan sebaik - baiknya supaya menjadi individu yang memiliki kualitas baik.
Stoltz (2004) mengemukakan bahwa adversity merupakan kesulitan yang dihadapi oleh seseorang sehingga tidak sedikit orang patah semangat menghadapi tantangan tersebut. Sedangkan AQ merupakan suatu kegigihan seseorang dalam menghadapi segala rintangan dalam mencapai keberhasilan. Selain itu, Stoltz (2004) juga mengemukakan bahwa AQ memiliki 4 dimensi pokok yang menjadi dasar penyusunan alat ukur AQ, yaitu :
- Pengendalian (Control) : yaitu respon seseorang terhadap kesulitan, baik lambat maupun spontanitas
- Kepemilikan (Origin and Ownership) : yaitu sejauh mana seseorang merasa dapat memperbaiki situasi
- Jangkauan (Reach) : yaitu sejauh mana kesulitan yang dihadapi dalam mempengaruhi kehidupan nya
- Daya tahan (Endurance) : yaitu mencerminkan bagaimana seseorang mempersepsikan kesulitannya dan dapat bertahan melalui kesulitan tersebut
Berkaitan dengan tingkatan AQ yang dimiliki seseorang, terdapat tiga tipe tingkatan yaitu climber (tinggi), camper (sedang), dan quitter (rendah). Seseorang yang memiliki tingkat climber tentu lebih mampu mengatasi kesulitan yang sedang dihadapi tetapi harus tetap diperhatikan dengan cara diberikan tugas tambahan pengayaan. Selain itu pada seseorang yang memiliki tingkat AQ climber juga dapat diberdayakan menjadi tutor sebaya kepada teman - temannya yang memiliki tingkat AQ camper dan quitter.
Contoh Kasus :
Pengaruh Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), Kecerdasan Spiritual (SQ), terhadap Kinerja Pegawai Inspektorat Provinsi Kalimantan Selatan
Hari Nugroho Akimas, Ahmad Alim Bachri (2016)
Pada analisis kasus kali ini, saya akan menggunakan salah satu jurnal yang berjudul Pengaruh Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), Kecerdasan Spiritual (SQ), terhadap Kinerja Pegawai Inspektorat Provinsi Kalimantan Selatan. Pada jurnal ini peneliti ingin menganalisa pengaruh kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ) terhadap kinerja pegawai inspektorat provinsi kalimantan selatan. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pegawai kantor Inspektorat Kalimantan Selatan yang berjumlah 81. Pengumpulan data menggunakan angket langsung dan tertutup, artinya angket tersebut langsung diberikan kepada responden dan responden diharuskan memilih jawaban yang telah tersedia (Sugiyono, 2010).
Analisis kasus:
Pada kecerdasan intelektual terhadap kinerja karyawan didapatkan hasil bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan, yang artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara IQ terhadap kinerja karyawan. Pada kecerdasan emosional terhadap kinerja karyawan didapatkan hasil tidak terdapat pengaruh yang signifikan, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara EQ terhadap kinerja karyawan. Pada kecerdasan spiritual terhadap kinerja karyawan didapatkan hasil terdapat pengaruh yang signifikan, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara SQ terhadap kinerja karyawan.
Kesimpulan :
Disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual menjadi hal yang penting ketika teknologi dan sistem kerja serta standar kerja yang tinggi dan terpadu. Kecerdasan intelektual memang penting namun relatif dapat digantikan dengan teknologi. Kecerdasan emosional juga penting, namun relatif tidak digunakan dan dirasakan karena sistem kerja serta standar kerja yang tinggi dan terpadu.
Referensi :
Akimas, H. N., Bachri, A. A. (2016). Pengaruh Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), Kecerdasan Spiritual (SQ), terhadap Kinerja Pegawai Inspektorat Provinsi Kalimantan Selatan. Jurnal Wawasan Manajemen, Vol. 4, No. 3, Oktober 2016
Ariati, L. K., Hartati, L. (2017). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika ditinjau dari Kreativitas dan Kecerdasan Emosional. Jurnal Analisa3(2) 2017, 106 - 114
Hidayat, W. (2017). Adversity Quotient dan Penalaran Kreatif Matematis Siswa SMA dalam Pembelajaran Argument Driven Inquiry pada Materi Turunan Fungsi. Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 2, No. 1, April 2017
Kusuma, I. C., Rizki, L. S. M. (2017). Pengaruh Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ) terhadap Pemahaman Akutansi Siswa di SMK Sumpah Pemuda 2. Jurnal Akunida Vol. 3, No. 1, Juni 2017
Muslimin, N. (2016). Pendidikan Agama Islam Berbasis IQ, EQ, SQ, dan CQ. Kabilah : Journal of Social Community Vol. 1, No. 2, Desember 2016, 255 - 273
Nurhayati., Fajrianti, N. (2015). Pengaruh Adversity Quotient (AQ) dan Motivasi Berprestasi terhadap Prestasi Belajar Matematika. Jurnal Formatif 3(1) : 72 - 77
Solehudin, M. (2018). Peran Guru PAI dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) Siswa SMK Komputama Majenang. Jurnal Tawadhu Vol. 1, No . 3, 2018
Komentar
Posting Komentar