PsyCap dan Contoh Kasus

                       PsyCap dan Contoh Kasus

Apa itu PsyCap?
            PsyCap adalah keadaan perkembangan psikologis positif individu yang dicirikan oleh: (1) memiliki kepercayaan diri (self-efficacy) untuk menerima dan menerapkan upaya yang diperlukan untuk berhasil dalam tugas yang menantang; (2) membuat atribusi positif (optimisme) tentang sukses pada saat ini dan di masa depan; (3) gigih menuju tujuan dan bila perlu mengarahkan jalan menuju tujuan (harapan) agar berhasil; dan (4) ketika dilanda masalah dan kesulitan, dapat menopang dan bangkit kembali, bahkan melampaui (ketahanan) untuk mencapai kesuksesan. PsyCap adalah konstruksi positif tingkat tinggi yang terdiri dari konstruksi empat segi yaitu self-efficacy / confidence, optimism, hope, and resiliency. PsyCap ini terbuka untuk pengembangan yang di usulkan agar dapat melanjutkan perspektif dalam menghadapi tantangan hari ini dan esok hari.

Terdapat 4 segi konstruktif dari PsyCap, yaitu :
PsyCap Efficacy - Menurut teori dan penelitian Bandura (1986, 1997) PsyCap didefinisikan yaitu keyakinan seseorang tentang kemampuannya untuk memobilisasi motivasi, sumber daya kognitif, dan tindakan yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan tertentu dan dalam konteks tertentu. PsyCap Efficacy dibangun di atas lima proses kognitifnya yang teridentifikasi dan merupakan konstituen penting dari persamaan kemanjuran: melambangkan, pemikiran ke depan, observasi, pengaturan diri, dan refleksi diri.
PsyCap Hope - Menurut C. Rick Synder seorang profesor psikologi klinis di University of Kansas dan pembangun teori dan peneliti yang paling dikenal luas tentang harapan dalam psikologi positif, dapat didefinisikan yaitu keadaan motivasi positif yang didasarkan pada rasa yang diperoleh secara interaktif dari keberhasilan (1) agen (energi yang diarahkan pada tujuan) dan (2) jalur (perencanaan untuk memenuhi tujuan) (Snyder, Irving, & Anderson, 1991, hal. 287). Penelitian Snyder mendukung bahwa harapan lebih merupakan keadaan kognitif atau "berpikir" di mana seorang individu mampu menetapkan tujuan dan harapan yang realistis tetapi menantang, dan kemudian menjangkau tujuan tersebut melalui tekad yang diarahkan sendiri, energi, dan persepsi yang diinternalisasi oleh kontrol. Inilah yang disebut Snyder dan rekan sebagai "agensi" atau "kemauan keras".
PsyCap Optimism - Sebagai komponen pemenuhan kriteria yang penting dari PsyCap, optimisme mungkin memiliki beberapa makna permukaan ini, tetapi lebih dari itu. Optimisme PsyCap bukan hanya tentang kecenderungan disposisional untuk mengharapkan hal-hal baik terjadi di masa depan. Optimisme PsyCap mencakup ekspektasi positif global (Carver, Scheier, Miller, & Fulford, 2009), tetapi ekspektasi ini juga bergantung pada alasan dan atribusi yang digunakan seseorang untuk menjelaskan mengapa peristiwa tertentu, positif dan negatif, terjadi di masa lalu, sekarang, dan masa depan (Seligman, 1998).
PsyCap Resiliency - PsyCap resiliency adalah kapasitas untuk pulih atau bangkit kembali dari kesulitan, konflik, kegagalan, atau bahkan peristiwa positif, kemajuan, dan peningkatan tanggung jawab (Luthans, 2002, hal. 702). PsyCap resiliency juga mencakup tidak hanya bangkit kembali ke "normal" tetapi juga menggunakan kesulitan sebagai batu loncatan menuju pertumbuhan dan perkembangan.

Contoh Kasus :

Penjelasan Kasus :

            Mengembangkan sebuah usaha tentu bukan perkara yang mudah. Untuk bisa berkompetisi dengan pesaing-pesaing di bidang usaha yang relatif sama serta dapat bertahan diperlukan banyak sekali modal-modal pada wirausaha. Selama ini, modal sering dikaitkan dengan modal secara ekonomi saja, seperti modal berupa uang untuk memulai sebuah usaha. Uang dianggap sebagai satu-satunya penentu keberhasilan sebuah usaha. Padahal ada modal lain yang tak kalah penting selain modal ekonomi yang dapat menunjang keberhasilan seorang wirausahawan, yaitu psychological capital dari individu yang menjalankan usaha tersebut. Mengikuti teori dari PsyCap bahwa seorang wirausahawan harus memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa meraih tujuan yang diinginkan (Efficacy). Wirausahawan yang berhasil akan memiliki visi dan misi yang jelas kedepannya mengenai usaha yang dijalankannya (Hope). Ia juga harus memiliki keyakinan dan berani untuk mengambil resiko-resiko yang akan dihadapinya saat ia membangun dan menjalankan sebuah usaha (Optimism). Ketika usahanya dihadapkan pada sebuah permasalahan, seorang wirausahawan yang berhasil akan segera bangkit tanpa rasa putus asa dalam dirinya (Resiliency). Maka dilakukanlah wawancara dengan 3 wirausahawan untuk mencari peran religiusitas pada wirausahawan yang sukses.

Analisis menggunakan teori PsyCap :

            Saat dilakukan wawancara  didapatkan hasil bahwa pada hal efficacy bahwa para wirausahawan muda memiliki gambaran mental (symbolizing) mengenai profesi wirausaha yang positif, profesi wirausaha sangat menjanjikan dan sesuai dengan passion mereka masing-masing, dan menanamkan dalam pikiran mereka bahwa yang penting untuk meraih kesuksesan adalah melalui usaha yang keras, tanpa usaha yang keras tidak akan mendapatkan hasil yang diinginkan. Efikasi diri muncul pada diri wirausahawan usia dewasa awal yang sukses. Peran dari orang-orang yang dianggap sukses dan menarik perhatian dapat membangun kognisi wirausahawan tersebut sehingga membentuk gambaran mental (observational) tersendiri pada diri individu hingga dapat memunculkan efikasi diri dalam diri wirausahawan muda.

            Lalu pada hal hope didapatkan bahwa dimensi harapan muncul pada diri wirausahawan muda. Masing-masing subjek memiliki tujuan (goals), membuat alternatif rencana-rencana yang mengarahkan pada tujuan (pathway thinking), dan memiliki motivasi serta energi tersendiri untuk meraih tujuan (agency). Pada hal optimism didapatkan bahwa para wirausahawan berani menetapkan mimpi mereka masing – masing dan untuk mencapai mimpi mereka didapatkan dengan cara memberikan usaha – usaha walaupun dari hal yang kecil. Pada hal resiliency didapatkan hasil bahwa ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan, mereka dapat menerima kenyataan bahwa sedang dihadapkan pada sebuah masalah dan adanya masalah ini juga tidak membuat mereka untuk berlarut – larut dalam kesedihan. Yang pada akhirnya mereka akan mencari solusi walaupun dengan cara nya masing – masing.

 Kesimpulan :

            Disimpulkan bahwa adanya aspek religiositas dan dukungan sosial ternyata berperan dalam munculnya psychological capital pada wirausahawan usia dewasa awal yang sukses. Aspek religiositas dan dukungan sosial mampu memunculkan resiliensi yang pada akhirnya akan berpengaruh pada meningkatnya optimisme, harapan, dan juga efikasi diri pada diri individu. 




Referensi :

Luthans, F., Morgan, C. M. Y., Avolio, B. J. (2015). Psychological Capital and Beyond. New York : Oxford University Press
Rahmadiani, N. D. (2016). Peran Religiositas dalam Meningkatkan Psychological Capital pada Wirausahawan Muda yang Sukses. Fakultas Pendidikan Psikologi : Universitas Negeri Malang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Engagement dan Self Determination

Resume Kuliah Dosen Tamu

Spiritual Quotient (SQ), Emotional Quotient (EQ), Creativity Quotient (CQ), Adversity Quotient (AQ)